Bierkeller Putsch

Jumat, 04 September 2009

Bierkeller Putsch (atau juga dikenal sebagai Putsch München) merupakan suatu percobaan nekad partai Nazi untuk menjatuhkan pemerintahan demokrasi dan mengambil alih kekuasaan melalui cara pemberontakan. "Putsch" bermakna perebutan kekuasaan di dalambahasa Jerman, sedangkan Bierkeller ialah dewan pertemuan dimana minuman bir biasanya dihidangkan kepada orang banyak. Bermula pada8 November 1923 di Bürgerbräu Keller sebuah Bierkeller yang terbesar di München dan berakhir sehari kemudian di pusat kota München.


Latar belakang

Selepas Perang Dunia I, pemerintah Jerman telah dipaksa untuk membayar pemerintah Prancis sejumlah uang yang besar tetapi mereka enggan membayarnya. Akibatnya nilai mata uang Jerman telah jatuh dengan parah dan negara telah dilanda inflasi. Namun, rakyatnya tetap menyokong pemerintahannya dan memuji ketahanan Jerman menentang Perancis. Malangnya pada September 1923, pemerintah Jerman terpaksa akur dengan kehendak Perancis dan mulai membayar balik hutang mereka. Ini telah membangkitkan kemarahan orang banyak terutama kelompok pelampau di wilayah Bavaria.

Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei dan kelompok politik yang lain mengambil kesempatan dengan ketegangan yang sedang berlaku. Adolf Hitler yang semakin terdesak untuk memegang pucuk pimpinan partai sadar bahwa ia perlu mengambil tindakan segera. Semasa itu partai Nazi, yang mempunyai 55.000 anggota, merupakan partai politik yang terbesar di Jerman dan mempunyai sistem organisasi terbaik dibandingkan dengan partai-partai lain.

Perebutan kekuasaan yang gagal

Rencana awal Hitler ialah untuk menculik Perdana Menteri Bavaria dan anggota tertinggi kerajaan di sana dan memaksa mereka untuk menyertai pemberontakan terhadap pemerintahan demokrasi Jerman. Ia tau bahwa sebanyak 3.000 anggota pemerintah Bavaria akan mengadakan perjumpaan di beer hall. Oleh karena itu, ia mengarahkan Sturmabteilung (SA) untuk mengepung beer hall tersebut. SewaktuGustav von Kahr, perdana menteri Bavaria sedang berucap, Adolf Hitler dan pasukan badainya yang bersenjata menerobos ke dalam bangunan itu. Kemudian Hitler memaksa Gustav von Kahr, Otto von Lossow (panglima militer Bavaria), dan Hans von Lossow, ketua polisi BundeslandBayern ke bilik yang berlainan.

Setelah itu Hitler memberi tahu mereka bertiga bahwa ia akan menjadi pemimpin baru Jerman dan menawarkan mereka jabatan tertinggi dalam pemerintahannya. Pada mulanya mereka enggan bekerja sama karena tidak mau menjadi pengkhianat bangsa. Setelah itu Erich Ludendorff, seorang perwira Perang Dunia I mencoba membujuk mereka. Akhirnya mereka bersepakat dengan Hitler dan di hadapan para pegawai pemerintah yang lain mereka memberi sokongan yang penuh kepada kelompok pemberontak. Hitler amat gembira saat mendapat sokongan mereka dan mulai percaya rencananya untuk menjadi pemimpin Jerman akan menjadi kenyataan. Tetapi telah diberi tahu bahwa rencana mengepung barak tentara Jerman menemui kesulitan. Oleh karena itu ia pun bergegas ke sana.

Tindakannya itu ternyata merupakan satu kesalahan. Tanpa kehadirannya pemberontak di dewan itu telah menjadi kocar-kacir. Ketiga pegawai tertinggi itu berhasil melepaskan diri setelah berjanji untuk setia kepada pemerintah Hitler. Hitler pun gagal menawan barak militer Jerman dan pulang kembali kepada Beer Hall dan mendapati orang tebusannya telah berhasil melarikan diri. Ia mulai sadar rencananya telah gagal tetapiErich von Ludendorff meyakinkannya bahwa jika mereka bersama-sama berarak-arakan ke Munchen, mereka akan berhasil merampas kekuasaan pemerintah. Eric begitu yakin takkan ada yang akan menembaknya, malah pihak polisi atau tentara di sana mungkin juga turut serta dengan pihak Nazi.

Adolf Hitler yang hampir putus asa itu terpaksa setuju dengan rencana Eric. Lalu dengan bala tentaranya sebanyak 3.000 orang mereka berarak menuju ibukota Jerman iaitu Berlin untuk menumbangkan pemerintah nasional. Walaupun begitu, Perdana Menteri Bayern serta pegawai pemerintahan yang lain telah berpaling tadah dan berusaha untuk menumpaskan kudeta tersebut. Strategi Hitler salah karena tidak mengarahkan tentaranya untuk menawan pusat komunikasi utama seperti stasiun radio dan kantor telegraf. Keesokan harinya, Perdana Menteri Bavaria telah mengkritik kudeta tersebut dan melarang parti Nazi yang bermarkas disana. Selain itu, pemerintah Bavaria dengan pantasnya telah memberi peringatan kepada pemerintah pusat mengenai rencana Hitler. Oleh itu, penguasa Munich telah bersedia untuk menumpas kudeta itu.

Saat pendukung Hitler tiba di Munich mereka telah bertembung dengan angkatan polisi di sana. Pertempuran sengit kemudian terjadi antara pihak Nazi dengan pihak berkuasa Muenchen. Dalam beberapa menit saja, 21 orang (termasuk 16 anggota Nazi) terbunuh dan beberapa ratus orang cedera. Hitler berhasil melarikan diri tetapi akhirnya ia bersama pegawai teringginya telah ditangkap.

Nazi setelah peristiwa Bierkeller Putsch

Banyak yang menyangka perebutan kekuasaan yang gagal itu telah menamatkan riwayat partai Nazi. Tetapi Hitler telah menggunakan kesempatan tersebut untuk menyebarkan ideologinya kepada rakyat jelata.

Dalam masa yang singkat, Hitler telah menjadi seorang terkenal disebabkan liputan media yang meluas. Para hakim dalam pembicaraannya telah dipilih oleh seorang yang pro-Nazi dalam pemerintah Bayern. Mereka membenarkannya menggunakan mahkamah sebagai pentas untuk menyebarkan propagandanya kepada rakyat.

Sewaktu pembicaraan dijalankan, ia yang bijak berpidato telah menjelaskan dengan panjang lebar mengenai aspirasi partai Nazi. Rakyat yang pada waktu itu tidak mengenali Hitler, mulai sadar tentang dia dan partainya. Malah mereka suka dengan kepribadiannya yang hebat serta argumennya yang berisi. Antara lain mereka setuju dengannya bahwa pemerintah yang "menikam mereka dari belakang" harus dijatuhkan. Mereka juga terpengaruh dengah kata-katanya yang penuh semangat.

Ahkirnya, Hitler dijatuhi hukuman lima tahun dengan 6 bulan parol. Sementara pegawai-pegawai lain telah mendapat hukuman yang ringan. Namun demikian, ia dilepaskan dari penjara setelah 8 bulan. Sewaktu dipenjara ia telah mengarang bukunya yang popular Mein Kampf. Selepas peristiwa yang memalukan tersebut, ia berikrar untuk mendapat kekuasaan dengan cara yang lebih demokratis.

Malam Pisau Panjang

Kamis, 03 September 2009

Malam Pisau Panjang atau "Operasi Kolibri" (bahasa Jerman: Kolibri) adalah pembersihan besar-besaran yang terjadi di Jerman Nazi antara tanggal 30 Juni sampai 2 Juli 1934, ketika rezim NSDAP menghukum mati sekitar 90 orang untuk alasan politik. Kebanyakan yang dibunuh adalah anggota "Pasukan Badai" (SA).

Adolf Hitler bermusuhan terhadap SA dan pimpinannya Ernst Julius Rohm, karena Hitler melihat kebebasan SA dan kesukaan anggotanya akan kekerasan jalanan merupakan ancaman langsung bagi kekuasaannya. Hitler juga menginginkan pencegahan gerakan apapun oleh para petinggi Reichswehr, militer Jerman, yang takut dan benci akan SA, membatasi kekuasaannya, khususnya sejak Ernst Rohm menunjukkan gelagat ambisinya untuk menggabungkan Reichswehr ke dalam SA dengan dirinya sebagai kepala. Akhirnya, Hitler menggunakan pembersihan itu untuk melawan kritik konservatif dalam rezimnya, khususnya yang setia pada Wakil Kanselir Franz von Papen, dan membereskan urusan dengan musuh-musuh lama.

Holocaust

Jumat, 31 Juli 2009

Holocaust

Holocaust (dari bahasa Yunani: holokauston yang berarti "persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya") adalah genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis, keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II.

Bangsa Yahudi di Eropa merupakan korban-korban utama dalam Holocaust, yang disebut kaum Nazi sebagai "Penyelesaian Terakhir Terhadap Masalah Yahudi". Jumlah korban Yahudi umumnya dikatakan mencapai enam juta jiwa. Genosida ini yang diciptakan Adolf Hitler dilaksanakan, antara lain, dengan tembakan-tembakan, penyiksaan, dan gas racun, di kampung Yahudi dan Kamp konsentrasi. Selain kaum Yahudi, kelompok-kelompok lainnya yang dianggap kaum Nazi "tidak disukai" antara lain adalah bangsa Polandia, Rusia, suku Slavia lainnya, penganut agama Katolik Roma, orang-orang cacat, orang cacat mental, homoseksual, Saksi-Saksi Yehuwa (Jehovah's Witnesses), orang komunis, suku Gipsi (Orang Rom dan Sinti) dan lawan-lawan politik. Mereka juga ditangkap dan dibunuh. Jika turut menghitung kelompok-kelompok ini dan kaum Yahudi juga, maka jumlah korban Holocaust bisa mencapai 9-11 juta jiwa.
Arti Holocaust
Nama Holocaust berasal dari kata Yunani yang digunakan dalam Alkitab, yang berarti persembahan bakaran yang utuh. (Ibrani 10:6) Namun sehubungan dengan artikel ini, “Holocaust adalah penganiayaan dan pemusnahan orang Eropa keturunan Yahudi secara sistematis dan yang disponsori negara Jerman Nazi dan sekutu-sekutunya antara tahun 1933-1945.
Pengingkaran Holocaust
Pengingkaran holocaust atau holocaust denial adalah kepercayaan bahwa Holocaust tidak pernah terjadi, atau jauh lebih sedikit dari 6 juta orang Yahudi yang dibunuh oleh Nazi; bahwa tidak pernah ada rencana terpusat untuk memusnahkan bangsa Yahudi; atau bahwa tidak ada pembunuhan masal di kamp-kamp konsentrasi. Mereka yang percaya akan hal ini biasanya menuduh bangsa Yahudi atau kaum Zionis mengetahui hal ini dan mengadakan konspirasi untuk mendukung agenda politik mereka. Karena Holocaust dianggap ahli-ahli sejarah sebagai salah satu kejadian paling banyak didokumentasikan dalam sejarah, pandangan-pandangan ini tidak dianggap kredibel, dengan organisasi-organisasi seperti American Historical Association mengatakan bahwa Holocaust denial sebagai "at best, a form of academic fraud. Pernyataan holocaust denial di muka umum adalah pelanggaran hukum di sepuluh negara Eropa, termasuk Perancis, Polandia, Austria, Swiss, Belgia, Romania, dan Jerman.

Holocaust deniers lebih suka disebut Holocaust "revisionists". Kebanyakan ahli sejarah mengatakan bahwa istilah ini menyesatkan. Historical revisionism adalah bagian dari ilmu sejarah; yaitu penyelidikan ulang dari accepted history (sejarah yang sudah diterima secara umum) dengan tujuan untuk lebih memperjelas peristiwa tersebut. Sebaliknya, negationist dapat secara sengaja menggunakan catatan sejarah yang salah; seperti ditulis Gordon McFee: "Revisionists depart from the conclusion that the Holocaust did not occur and work backwards through the facts to adapt them to that preordained conclusion. Put another way, they reverse the proper methodology ... thus turning the proper historical method of investigation and analysis on its head."

Public Opinion Quarterly juga menyimpulkan: "Tidak ada ahli sejarah terkemuka yang mempertanyakan kenyataan Holocaust, dan mereka yang mendukung Holocaust denial kebanyakan adalah anti-Semit dan/atau neo-Nazi."

Holocaust denial sangat populer dalam penentang-penentang Israel dari kaum Muslim karena memang banyak bukti yang dikeluarkan oleh ilmuwan barat sendiri yang menjelaskan kebohongan holocaust ini. Disertasi doktor Mahmoud Abbas, Presiden Palestina, meragukan bahwa kamar gas digunakan untuk membunuh orang-orang Yahudi dan mengatakan bahwa jumlah orang Yahudi yang dibunuh dalam Holocaust kurang dari 1 juta jiwa. Abbas belum pernah menyatakan pandangan ini sejak ditunjuk menjadi Perdana Menteri Palestina pada tahun 2003, dan telah membantah bahwa ia adalah seorang Holocaust denier. Pada akhir 2005, presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menggambarkan Holocaust sebagai "mitos pembantaian orang Yahudi.
Sebenarnya dari kalangan ilmuwan barat sendiri ada beberapa yang menyangkal adanya Holocaust, di antaranya: Pengarang Perancis Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, dll. tetapi hampir semuanya dinyatakan bersalah dan dijebloskan kedalam penjara termasuk Pada 15 Feb 2007, Ernst Zundel seorang Holocaust denier dihukum 5 tahun penjara. Seorang pengacaranya, Herbert Schaller, menghujah bahwa semua bukti tentang adanya Holocaust hanya berdasarkan pengakuan korban-korbannya saja, bukan berdasarkan fakta-fakta yang jelas. Ernst Zundel ini juga pernah ditahan pada tahun 1985, dan 1988 dalam kasus yang sama.

Semua hal di atas sangat kontras dengan slogan negara-negara barat sendiri yang menyatakan kebebasan berpendapat apalagi disertai bukti-bukti ilmiah tentang kebohongan Holocaust terutama digunakannya kamar gas oleh Nazi di Polandia, tetapi begitu menyinggung masalah yang menggugat hal ini mereka langsung memberangus habis penentang-penentangnya sehingga banyak kalangan menilai adanya lobby Yahudi yang berdiri dibelakangnya dalam mempengaruhi putusan pengadilan
Hari peringatan Holocaust
Dengan suara bulat, didalam sidang Majelis Umum PBB pada 1 November 2005, ditetapkan bahwa tanggal 27 Januari sebagai "Hari Peringatan Korban Holocaust". 27 Januari 1945 adalah hari dimana tahanan kamp konsentrasi NAZI di Auschwitz-Birkenau dibebaskan. Bahkan sebelum PBB menetapkannya, tanggal 27 Januari telah di tetapkan sebagai Hari Peringatan Korban Holocaust oleh Kerajaan Inggris sejak tahun 2001, sebagaimana halnya di negara-negara lain, mencakup Swedia, Italia, Jerman, Finlandia, Denmark dan Estonia. Israel memperingati Yom HaShoah vea Hagvora, "Hari Hari Peringatan Holocaust dan Keberanian Bangsa Yahudi" pada pada hari ke 27 bulan Nisan, bulan Ibrani, yang biasanya jatuh pada bulan April. Hari peringatan ini biasanya juga di peringati oleh Yahudi di luar Israel.