Schutsel VOC Milik MSJ "Mejeng" di London

Minggu, 12 April 2009

Sejarah koleksi Museum Sejarah Jakarta dimulai ketika pada tahun 1788, Konselor Hindia Belanda JCM Radermacher, bersama para ilmuwan, mendirikan Perkumpulan Seni dan Ilmiah Batavia (Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Tujuannya untuk melakukan penelitian di bidang seni dan ilmu pengetahuan yang di dalamnya ada sejarah ilmu alam, arkeologi, dan etnografi dari seluruh nusantara.

Sejak abad ke-19, perkumpulan ini sudah memperoleh koleksi peninggalan arkeologi khususnya dari periode pra-Islam, seperti potongan uang dan naskah. Hasil temuan itu bahkan sudah dipamerkan di Museum of Bataviaasch Genootschap van Kusnten en Wetenschappen (Museum Nasional) tahun 1868. Di abad ke-20, museum ini sudah mengumpulkan berbagai ukiran kayu dan obyek seni lainnya berhubungan dengan sejarah Batavia.

Dalam buku Dari Stadhuis Sampai Museum yang ditulis Hans Bonke dan Anne Handojo, di tahun 1937, perkumpulan lain pun terbentuk, yaitu Yayasan Batavia Lama (Stichting Oud Batavia). Yayasan ini berencana membangun museum khusus sejarah Batavia, Museum Sejarah Batavia. Maka, koleksi berbau Batavia dari Museum of Bataviaasch Genootschap pun diboyong ke museum baru ini.

Pada dua tahun berikutnya, publik sudah bisa menikmati koleksi yang terdiri dari berbagai peralatan perak, lukisan, furnitur masa kolonial, buku, dan lainnya sebagai adopsi dari ruang pamer bertema "Compagniekamers (Kamar-kamar Company)". Masa jaya museum ini terganggu pada periode 1942-1945 saat Jepang masuk. Pada periode ini, banyak hal terjadi pada koleksi.


Yayasan Batavia Lama mengubah nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada 1950. Lembaga ini menjadi semacam pengatur dua museum, Museum Pusat yang semula bernama Museum of Bataviaasch Genootschap dan Museum Jakarta Lama yang semula bernama Museum Sejarah Batavia. Koleksi dari dua museum tadi kemudian diserahkan kepada Pemerintah Indonesia pada 1958. Pada sepuluh tahun kemudian, pemerintah memindahkan kembali sebagian koleksi ke Museum Jakarta Lama (kini Museum Sejarah Jakarta).

Salah satu koleksi museum ini adalah schutsel atau pemisah ruang dari abad 18. Koleksi ini berasal dari ruang sidang Dewan Hindia Belanda di Kastil Batavia. Adolf Heuken menyebutkan, dewi kebijaksanaan—Dewi Pallas Athena—menjadi bagian sentral pemisah ruang itu. Di bawah mahkota terdapat lambang enam kota yang membentuk VOC, sedangkan di tengahnya ada lambang kota Batavia.

Pemisah ruang ini kini sedang berada di London, tepatnya di Victoria and Albert Museum dalam sebuah pameran bertema Baroque: Stye in The Age of Magnificence (1620-1800). Pameran ini dibuka pada 4 April-19 Juli 2009.

Daendels, Sultan Agung dan Jalan Pos

Herman Willem Daendels yang berkuasa di abad 19 dan Sultan Agung pendiri wangsa Mataram yang berkuasa di abad 17 ternyata memiliki kaitan erat lewat keberadaan Jalan Raya Pos. Sebagian jalur Jalan Raya Pos (Gr ote Post Weg-Red) yang dibangun oleh Daendels merupakan bagian dari jalan desa yang dirintis dan ditempuh pasukan Sultan Agung saat menyerang Batavia tahun 1628 dan 1630.

Sejarawan menjelaskan, beberapa ruas Jalan Raya Pos merupakan perluasan dari jalan yang pernah dirintis atau digunakan pasukan Sultan Agung dari Mataram. "Sultan Agung bermaksud mengukuhkan kekuasaan di tanah Jawa dengan menyerang Batavia lalu menguasai Banten. Itu sebabnya Kesultanan Banten tidak membantu pengepungan yang dilakukan Sultan Agung terhadap Batavia," ujar Mona yang menerjemahkan arsip VOC sejak tahun 1600-an hingga era Hindia Belanda tahun 1942.

Penulis Belanda Pierre Heiboer dalam Klamboes, Klewang, Klapperbomen Indie Gewonnen en Verloren menulis, semula Sultan Agung tidak memandang Belanda di Batavia sebagai musuh. Namun, sikap Sultan Agung berubah saat dia berusaha mengalahkan Banten.

Heijboer menulis ...Vijanden van Mataram werden ze pas toen ze weigerden de sultan sch epen te lenen voor de verovering van Bantam. Het brach Agoeng tot het besluit ... eerst Batavia veroveren en daarna Bantam yang kurang lebih berarti permusuhan berawal ketika Belanda menolak meminjamkan kapal kepada Sultan Agung untuk menyerang Banten, Sultan Agung pun memutuskan untuk mengalahkan Batavia terlebih dahulu, selanjutnya Banten ditaklukkan.

Sebelumnya, seperti dalam tulisan Pramoedya Ananta Toer, Jalan Pos Jalan Daendels, disebutkan Sultan Agung telah melebarkan kekuasaan dengan menguasai dataran tinggi Priangan. Setiap tahun, para bangsawan Pasundan pun diwajibkan datang ke Mataram sebagai wujud kesetiaan pada Sultan Agung.

Semasa menyerang Batavia, Sultan Agung memiliki dua panglima yakni Bahureksa yang berasal dari suku Jawa dan Dipati Ukur yang merupakan bangsawan Sunda. Pasukan bergerak dari wilayah Jawa Tengah dan dataran tinggi Priangan di Jawa Barat. Salah satu gudang beras pasukan Sultan Agung terdapat di sekitar Cirebon, Jawa Barat dan Tegal, Jawa Tengah. Ribuan rakyat desa dikerahkan menjadi tenaga bantuan untuk mendukung pasukan Sultan Agung.

Kalender Kuno Maya Ramalkan Kejadian Besar 2012

Senin, 02 Maret 2009


Kalender suci bangsa Maya atau Tzolkin adalah pintu memasuki pemikiran suatu peradaban sangat maju di dunia Barat sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Para ahli meyakini, astronomi Maya Kuno adalah pencapaian intelektual yang menakjubkan, setara dengan geometri Mesir Kuno dan filosofi Yunani.

Banyak orang percaya, kalender berusia 2.000 tahun itu lebih akurat dibandingkan kalender Gregorian yang digunakan sejak tahun 1582.

Bangsa Maya Kuno hidup pada awal milenium pertama sesudah Masehi di wilayah Mesoamerika, yang membentang dari Meksiko Utara ke Honduras, di utara Semenanjung Yucatan. Penduduknya berjumlah 5 juta sampai 14 juta orang, bermukim di kota-kota yang kini dikenal sebagai Meksiko Selatan, Guatemala, dan Belize.

Dalam The Mayan Calendar and the Transformation of Consciousness (2004), Carl Johan Calleman PhD menulis, selain kebudayaan yang tinggi di bidang seni dan arsitektur yang ditemukan di kawasan-kawasan piramida, seperti Palenque, Tikal, Copán, dan Chitchén Itzá, bangsa Maya Kuno sangat dikenal kemampuannya dalam ilmu astronomi dan matematika. Bangsa inilah yang pertama menggunakan angka nol (0).

Bangsa Maya Kuno terobsesi pada waktu. Menurut Lawrence E Joseph dalam Apocalypse 2012 (2007), mereka menciptakan sedikitnya 20 kalender, disesuaikan dengan berbagai siklus, mulai dari kehamilan hingga panen, bulan hingga Venus. Penghitungan orbitnya sangat akurat dengan selisih hanya satu hari setiap 1.000 tahun.

Reruntuhan kota-kota mereka, menurut Jared Diamond dalam Collapse: How Societies Choose to Fail or Survive (2005), baru ditemukan tahun 1839 oleh ahli hukum dari Amerika Serikat, John Stephens, bersama juru gambar asal Inggris, Frederick Catherwood. Eksplorasi itu menemukan 44 kota dan tempat.

Terobsesi siklus

Yang terpenting bagi masyarakat Maya Kuno adalah etos kosmis. Kedamaian berarti sikap harmoni dengan gerakan abadi alam semesta. Akibat terpaku pada siklus, mereka tidak menyadari perubahan di sekitar mereka.

Hal ini mungkin menjelaskan keambrukan bangsa itu. Meski ada yang meyakini mereka moksa, Jared Diamond secara metodologis menjelaskan, penyebabnya adalah hancurnya daya dukung lingkungan karena bertani dan membabat hutan secara berlebihan, serta pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi.

Pandangan itu dikonfirmasi penelitian Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang menemukan serbuk sari terperangkap dalam sedimen berusia 1.200 tahun—menjelang keruntuhan peradaban Maya—di sekitar wilayah Tikal. Itu pertanda deforestasi masif; pepohonan lenyap, tinggal rumput.

Penyebab lain adalah perang terus-menerus memperebutkan kekuasaan dan sumber daya alam. Kurang dari satu abad, jumlah penduduk berkurang 80-90 persen. Menurut Diamond, perhatian para pemimpin saat itu tampaknya berpusat pada masalah jangka pendek. Mereka serakah, gila kuasa, dan menindas.

Namun, keruntuhan dramatis itu tidak menihilkan kearifan bangsa Maya Kuno, khususnya tentang ramalan bencana yang belum tertandingi. Penyerbuan Spanyol atas perintah Roma tahun 1519 sudah diramalkan dengan bantuan bintang-bintang di angkasa.

Ramalan itu menyelamatkan teks-teks kuno—yang masih disimpan para tetua di pedalaman—di antara ribuan teks yang dibakar penjajah dan empat buku tentang Kalender Maya yang kemudian ditemukan di Eropa.

Sekarang Kalender Maya meramalkan kejadian di dunia pada 21/12/2012!