Ditemukan 5 Situs Bawah Air Karimunjawa

Selasa, 27 April 2010


Potensi peninggalan benda cagar budaya (BCB) bawah air di perairan Indonesia relatif banyak, mencapai sedikitnya 500 situs. Kini, Direktorat Peninggalan Bawah Air (PBD), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI tengah mengidentifikasi potensi penggalan bawah air di wilayah Karimunjawa.

Kepala Seksi Survei pada Subdit Eksplorasi, Direktorat PBA, Desse Yussubrastra mengatakan, kegiatan di Karimunjawa berlangsung selama 10 hari, bertujuan untuk menghasilkan data awal yang dapat dijadikan bahan rujukan untuk perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan potensi peninggalan bawah air di wilayah Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.

"Dari dokumen dan arsip, serta informasi yang diperoleh, perairan Karimunjawa telah menjadi jalur transportasi sejak ratusan tahun lalu dan terdapat bangkai kapal-kapal tenggelam yang diduga memiliki nilai historis yang penting," katanya, Senin (26/4/2010) di Jakarta.

Dari kegiatan identifikasi, tim survei Direktorat PBA berhasil mendata lima lokasi situs dengan karakteristik yang berbeda, baik jenis temuan, kedalaman, arus, dan jarak pandang. Alat survei yang digunakan adalah magnetometer dan GPS Map Sounder. Berdasarkan data yang terekam kedua alat tersebut, tim melakukan penyelamatan untuk mengidentifikasi langsung dan pendokumentasian.

Desse menjelaskan, hasil identifikasi di lapangan menunjukkan bahwa dua lokasi yaitu Kapal Indonor di Kemojan dan temuan fragmen kremaik di perairan Pulau Genting berpotensi untuk menjadi lokasi yang memiliki nilai historis dan dapat dikembangkan menjadi lokasi wisata budaya dan edukasi yang menarik serta atraktif. Penilaian ini masih bersifat sementara dan harus ditindaklanjuti dengan kajian lebih lanjut.

Sedangkan untuk temuan kapal kayu di perairan Manjangan Kecil dan Pulau Seruni walaupun usianya masih relatif baru, kedua lokasi ini dapat dikembangkan menjadi lokasi wisata budaya (weckdiving) yang menarik untuk ditawarkan kepada wisatawan asing dan domestik, ungkapnya.

Sementara untuk lokasi di pulau Geleang, masih dibutuhkan indentifikasi lebih lanjut karena posisi bangkai kapal tergolong dalam, melebihi 43 meter dan jarak pandang amat terbatas (kurang dari 1 meter).

Menurut Desse, peninggalan bawah air dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai tujuan wisata bahari yang dapat menjadi salah satu alternatif pembangunan perekonomian daerah. Untuk meningkatkan sumber daya tarik dan perkembangan wisata, semua pemangku kepentingan harus sadar bahwa menyatukan prinsip-prinsip pembangunan perkelanjutan harus sadar bahwa betapa pentingnya menyatukan prinsip-prinsi p pembangunan berkelanjutan pada perencanaan yang matang dan konsisten pada implementasinya.

Pengembangan potensi wisata arkeologi bawah air ini selain menguntungkan penduduk lokal, juga membantu pelestarian warisan budaya di lokasi tujuan wisata.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Peninggalan Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Helmi, membenarkan temuan tim survey di perairan Karimunjawa tersebut.

"Hasil interpretasi arkeologi menjadi data penting bagi penulisan sejarah lokal, karena akan melengkapi dan memperkuat akurasi data-data tertulis (dokumen) yang digunakan sebagai acuan penulisan sejarah," katanya.

Untuk pengembangan temuan tim survei menjadikan situs kapal tersebut sebagai obyek wisata, pemerintah daerah setempat perlu belajar dengan masyarakat Tulamben, Karangasem, Bali, yang sangat memperhatikan kelestarian peninggalan arkeologi berupa kapal tenggelam, yaitu kapal USAT Liberty, sebuah kapal kar go milik Amerika Serikat. Kapal tersebut mengangkut peralatan perang dan karam karena dilumpuhkan oleh torpedo kapal selam milik Jepang I-166, di Selat Lombok pada 11 Januari 1942, dalam Perang Dunia II.

"Masyarakat merasa perlu melestarikan obyek ini agar tidak rusak karena ulah manusia, sehingga terciptalah aturan-aturan yang di Bali dikenal dengan istilah awig-awig, antara lain tercantum berupa larangan tidak boleh memancing pada radius 100 meter dari lokasi kapal tenggelam. Larangan bagi siapa pun untuk mengambil atau memanfaatkan sisa-sisa kapal rusak untuk kepentingan komersial. Larangan untuk menghancurkan terumbu karang yang tumbuh dan berkembang pada dinding-dinding kapal yang telah menjadi habitar dari terumbu karang, dan sejumlah larangan lainnya," ungkap Surya Helmi.

Pembantaian Westerling

Westerling tiba di Makassar pada 5 Desember 1946, memimpin 120 orang Pasukan Khusus dariDia mendirikan markasnya di desa Matoangin. Di sini dia menyusun strategi untukpenumpasan pemberontakan) dengan caranya sendiri, dan tidakberpegang pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), dimana telah ada ketentuan mengenai tugas intelijen serta perlakuan terhadap penduduk dantahanan. Suatu buku Pedoman untuk Counter Insurgency. Saat inilah terjadi peristiwaPembantaian Westerling

DST. Counter Insurgency (

Reputasi Pasukan Khusus DST dan komandannya, Westerling melambung tinggi. Media massaBelanda memberitakan secara superlatif. Ketika pasukan DST tiba kembali ke Markas DST pada23 Maret 1947, mingguan militer Het Militair Weekblad menyanjung dengan berita: "Pasukan si Turki kembali." Berita pers Belanda sendiri yang kritis mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan baru muncul untuk pertama kali pada bulan Juli 1947.

Tanggal 5 Januari 1948, nama DST diubah menjadi Korps Speciale Troepen – KST (KorpsPasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit terjun payung. Westerling kini memegangkomando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya kini Kapten.

Setelah Persetujuan Renville, anggota pasukan KST ditugaskan juga untuk melakukan patrolidan pembersihan, antara lain di Jawa Barat. Namun sama seperti di Sulawesi Selatan, banyakanak buah Westerling melakukan pembunuhan sewenang-wenang terhadap penduduk di JawaBarat. Perbuatan ini telah menimbulkan protes di kalangan tentara KL (Koninklijke Leger) dariBelanda, yang semuanya terdiri dari pemuda wajib militer dan sukarelawan Belanda.

Pada 17 April 1948, Mayor KL R.F. Schill, komandan pasukan 1-11 RI di Tasikmalaya, membuatlaporan kepada atasannya, Kolonel KL M.H.P.J. Paulissen di mana Schill mengadukan ulahpasukan elit KST (Korps Speciaale Troepen) yang dilakukan pada 13 dan 16 April 1948. Di duatempat di daerah Tasikmalaya dan Ciamis, pasukan KST telah membantai 10 orang penduduktanpa alasan yang jelas, dan kemudian mayat mereka dibiarkan tergeletak di tengah jalan.

Pengaduan ini mengakibatkan dilakukannya penyelidikan terhadap pasukan khusus pimpinanWesterling. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang kemudian mencuat ke permukaan. Di samping pembunuhan sewenang-wenang, jugaterjadi kemerosotan disiplin dan moral di tubuh pasukan elit KST. Kritik tajam mulaiberdatangan dan pers menuding Westerling telah menggunakan metode Gestapo (Geheime Staatspolizei), polisi rahasia Jerman yang terkenal kekejamannya semasa Hitler, dan hal-hal inimembuat para petinggi tentara Belanda menjadi gerah.

Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)

Walaupun Jenderal Spoor sendiri sangat menyenangi Westerling, namun untuk menghindari pengusutan lebih lanjut serta kemungkinan tuntutan ke pangadilan militer, Spoor memilih untuk menon-aktifkan Westerling. Pada 16 November 1948, setelah duasetengah tahun memimpin pasukan khusus Depot Speciaale Troepen (DST) kemudian KST, Westerling diberhentikan dari jabatannya dan juga dari dinas kemiliteran. Penggantinya sebagai komandan KST adalah Letnan Kolonel KNIL W.C.A. van Beek. Setelah pemecatan atas dirinya, Westerling menikahi pacarnya dan menjadi pengusaha di Pacet (Puncak), Jawa Barat.

Pada bulan November 1949, dinas rahasia militer Belanda menerima laporan, bahwa Westerling telah mendirikan organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar 500.000 orang. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah "Ratu Adil Persatuan Indonesia" (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan "Angkatan Perang Ratu Adil" (APRA).

Westerling tetap aktif menjaga hubungan dengan bekas anak buahnya dan menjalin hubungan dengan kelompok Darul Islam di Jawa Barat. Secara diam-diam ia membangun basis kekuatan bersenjata akan digunakan untuk memukul Republik Indonesia, yang direalisasikannya pada 23 Januari 1950, dalam usaha yang dikenal sebagai "Kudeta 23 Januari". Secara membabi buta Westerling dan anak buahnya menembak mati setiap anggota TNI yang mereka temukan di jalan. 94 anggota TNI tewas dalam pembantaian tersebut, termasuk Letnan Kolonel Lembong, dan tak ada korban di pihak APRA.

Aksi militer yang dilancarkan oleh Westerling bersama APRA yang antara lain terdiri dari pasukan elit tentara Belanda, tentu menjadi berita utama media massa di seluruh dunia. Hugh Laming, koresponden Kantor Berita Reuters yang pertama melansir pada 23 Januari 1950 dengan berita yang sensasional. Osmar White, jurnalis Australia dari Melbourne Sun memberitakan di halaman muka: "Suatu krisis dengan skala internasional telah melanda Asia Tenggara." Untuk dunia internasional, Belanda sekali lagi duduk di kursi terdakwa. Duta Besar Belanda di AS, van Kleffens melaporkan bahwa di mata orang Amerika, Belanda secara licik sekali lagi telah mengelabui Indonesia, dan serangan di Bandung dilakukan oleh de zwarte hand van Nederland (tangan hitam dari Belanda).

Konspirasi Belanda menyelamatkan Westerling

Sejak kegagalan tanggal 23 Januari, Westerling bersembunyi di Jakarta, dan mendatangkan istri dan anak-anaknya ke Jakarta. Dia selalu berpindah-pindah tempat, antara lain di Kebon Sirih 62A, pada keluarga de Nijs.

Pada 8 Februari 1950 istri Westerling menemui Mayor Jenderal Van Langen, yang menjabat sebagai Kepala Staf, di rumah kediamannya. Isteri Westerling menyampaikan kepada van Langen mengenai situasi yang dihadapi oleh suaminya. Hari itu juga van Langen menghubungi Jenderal Buurman van Vreeden, Hirschfeld dan Mr. W.H. Andreae Fockema, Sekretaris Negara Kabinet Belanda yang juga sedang berada di Jakarta. Pokok pembicaraan adalah masalah penyelamatan Westerling, yang di mata banyak orang Belanda adalah seorang pahlawan. Dipertimbangkan antara lain untuk membawa Westerling ke Papua bagian barat. Namun sehari setelah itu, pada 9 Februari Hatta menyatakan, bahwa apabila pihak Belanda berhasil menangkap Westerling, pihak Republik akan mengajukan tuntutan agar Westerling diserahkan kepada pihak Indonesia. Hirschfeld melihat bahwa mereka tidak mungkin menolong Westerling karena apabila hal ini terungkap, akan sangat memalukan Pemerintah Belanda. Oleh karena itu ia menyampaikan kepada pimpinan militer Belanda untuk mengurungkan rencana menyelamatkan Weterling.

Namun tanpa sepengetahuan Hirschfeld, pada 10 Februari Mayor Jenderal Van Langen memerintahkan Kepala Intelijen Staf Umum, Mayor F. van der Veen untuk menghubungi Westerling dan menyusun perencanaan untuk pelariannya dari Indonesia. Dengan bantuan Letkol Borghouts–pengganti Westerling sebagai komandan pasukan elit KST–pada 16 Februari di mess perwira tempat kediaman Ajudan KL H.J. van Bessem di Kebon Sirih 66 berlangsung pertemuan dengan Westerling, di mana Westerling saat itu bersembunyi. Borghouts melaporkan pertemuan tersebut kepada Letkol KNIL Pereira, perwira pada Staf Umum, yang kemudian meneruskan hasil pertemuan ini kepada Mayor Jenderal van Langen.

Westerling pindah tempat persembunyian lagi dan menumpang selama beberapa hari di tempat Sersan Mayor KNIL L.A. Savalle, yang kemudian melaporkan kepada Mayor van der Veen. Van der Veen sendiri kemudian melapor kepada Jenderal van Langen dan Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima tertinggi Tentara Belanda. Dan selanjutnya, Van Vreeden sendiri yang menyampaikan perkembangan ini kepada Sekretaris Negara Andreae Fockema. Dengan demikian, kecuali Hirschfeld, Komisaris Tinggi Belanda, seluruh jajaran tertinggi Belanda yang ada di Jakarta baik militer maupun sipil mengetahui dan ikut terlibat dalam konspirasi menyembunyikan Westerling dan rencana pelariannya dari Indonesia. Andreae Fockema menyatakan, bahwa dia akan mengambil alih seluruh tanggungjawab.

Pada 17 Februari Letkol Borghouts dan Mayor Van der Veen ditugaskan untuk menyusun rencana evakuasi. Disiapkan rencana untuk membawa Westerling keluar Indonesia dengan pesawat Catalina milik "Marineluchtvaartdienst - MLD" (Dinas Penerbangan Angkatan Laut) yang berada di bawah wewenang Vice Admiral J.W. Kist. Rencana ini disetujui oleh van Langen dan hari itu juga Westerling diberitahu mengenai rencana ini. Van der Veen membicarakan rincian lebih lanjut dengan van Langen mengenai kebutuhan uang, perahu karet dan paspor palsu. Pada 18 Februari van Langen menyampaikan hal ini kepada Jenderal van Vreeden. Van der Veen menghubungi Kapten (Laut) P. Vroon, Kepala MLD dan menyampaikan rencana tersebut. Vroon menyampaikan kepada Admiral Kist, bahwa ada permintaan dari pihak KNIL untuk menggunakan Catalina untuk suatu tugas khusus. Kist memberi persetujuannya, walau pun saat itu dia tidak diberi tahu penggunaan sesungguhnya. Jenderal van Langen dalam suratnya kepada Admiral Kist hanya menjelaskan, bahwa diperlukan satu pesawat Catalina untuk kunjungan seorang perwira tinggi ke kepulauan Riau. Tak sepatah kata pun mengenai Westerling. Selanjutnya dibuatkan paspor palsu di kantor Komisaris Tinggi (tanpa laporan resmi). Nama yang tertera dalam paspor adalah Willem Ruitenbeek, lahir di Manila.

Pada hari Rabu tanggal 22 Februari, satu bulan setelah "kudeta" yang gagal, Westerling yang mengenakan seragam Sersan KNIL, dijemput oleh van der Veen dan dibawa dengan mobil ke pangkalan MLD di pelabuhan Tanjung Priok. Pesawat Catalina hanya singgah di Tanjung Pinang dan kemudian melanjutkan penerbangan menuju Singapura. Mereka tiba di perairan Singapura menjelang petang hari. Kira-kira satu kilometer dari pantai Singapura pesawat mendarat di laut dan perahu karet diturunkan.

Dalam bukunya De Eenling, Westerling memaparkan, bahwa perahu karetnya ternyata bocor dan kemasukan air. Beruntung dia diselamatkan oleh satu kapal penangkap ikan Tiongkok yang membawanya ke Singapura. Setibanya di Singapura, dia segera menghubungi teman Tionghoanya Chia Piet Kay, yang pernah membantu ketika membeli persenjataan untuk Pao An Tui. Dia segera membuat perencanaan untuk kembali ke Indonesia.

Penangkapan

Pada 24 Februari kantor berita Perancis Agence France Presse memberitakan bahwa Westerling telah dibawa oleh militer Belanda dengan pesawat Catalina dari MLD ke Singapura. Setelah itu pemberitaan mengenai pelarian Westerling ke Singapura muncul di majalah mingguan Amerika, Life.

Pada 26 Februari 1950 ketika berada di tempat Chia Piet Kay, Westerling digerebeg dan ditangkap oleh polisi Inggris kemudian dijebloskan ke penjara Changi. Sebelumnya, pada 20 Februari ketika Westerling masih di Jakarta, Laming, seorang wartawan dari Reuters, mengirim telegram ke London dan memberitakan bahwa Westerling dalam perjalanan menuju Singapura, untuk kemudian akan melanjutkan ke Eropa.

Pemberitaan di media massa sangat memukul dan memalukan pimpinan sipil dan militer Belanda di Indonesia. Kabinet RIS membanjiri Komisaris Tinggi Belanda Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan. Hirschfeld sendiri semula tidak mempercayai berita media massa, sedangkan Jenderal Buurman van Vreeden dan Jenderal van Langen menyangkal bahwa mereka mengetahui mengenai bantuan pimpinan militer Belanda kepada Westerling untuk melarikan diri ke Singapura.

25 Februari Hirschfeld menyadari bahwa semua pemberitaan itu betul dan ternyata hanya dia dan Admiral Kist yang tidak diberitahu oleh van Vreeden, van Langen dan Fockema mengenai adanya konspirasi Belanda untuk menyelamatkan Westerling dari penagkapan oleh pihak Indonesia.

Fockema segera menyatakan bahwa dialah yang bertanggungjawab dan menyampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat, bahwa Hirschfeld sama sekali tidak mengetahui mengenai hal ini. Menurut sinyalemen Moor, sejak skandal yang sangat memalukan Pemerintah Belanda tersebut terbongkar, hubungan antara Hirschfeld dengan pimpinan tertinggi militer Belanda di Indonesia mencapai titik nol.

Pelarian ke Belgia

Setelah mendengar bahwa Westerling telah ditangkap oleh Polisi Inggris di Singapura, Pemerintah RIS mengajukan permintaan kepada otoritas di Singapura agar Westerling diekstradisi ke Indonesia. Pada 15 Agustus 1950, dalam sidang Pengadilan Tinggi di Singapura, Hakim Evans memutuskan, bahwa Westerling sebagai warganegara Belanda tidak dapat diekstradisi ke Indonesia. Sebelumnya, sidang kabinet Belanda pada 7 Agustus telah memutuskan, bahwa setibanya di Belanda, Westerling akan segera ditahan. Pada 21 Agustus, Westerling meninggalkan Singapura sebagai orang bebas dengan menumpang pesawat Australia Quantas dan ditemani oleh Konsul Jenderal Belanda untuk Singapura, Mr. R. van der Gaag, seorang pendukung Westerling.

Westerling sendiri ternyata tidak langsung dibawa ke Belanda, namun –dengan izin van der Gaag- dia turun di Brussel, Belgia. Dia segera dikunjungi oleh wakil-wakil orang Ambon dari Den Haag, yang mendirikan "Stichting Door de Eeuwen Trouw - DDET" (Yayasan Kesetiaan Abadi). Mereka merencanakan untuk kembali ke Maluku untuk menggerakkan pemberontakan di sana. Di negeri Belanda sendiri secara in absentia Westerling menjadi orang yang paling disanjung.

Awal April 1952, secara diam-diam Westerling masuk ke Belanda. Keberadaannya tidak dapat disembunyikan dan segera diketahui, dan pada 16 April Westerling ditangkap di rumah Graaf A.S.H. van Rechteren. Mendengar berita penangkapan Westerling di Belanda, pada 12 Mei 1952 Komisaris Tinggi Indonesia di Belanda Susanto meminta agar Westerling diekstradisi ke Indonesia, namun ditolak oleh Pemerintah Belanda, dan bahkan sehari setelah permintaan ekstradisi itu, pada 13 Mei Westerling dibebaskan dari tahanan. Putusan Mahkamah Agung Belanda pada 31 Oktober 1952, menyatakan bahwa Westerling adalah warganegara Belanda sehingga tidak akan diekstradisi ke Indonesia.

Penghentian pengusutan

Setelah keluar dari tahanan, Westerling sering diminta untuk berbicara dalam berbagai pertemuan, yang selalu dipadati pemujanya. Dalam satu pertemuan dia ditanya, mengapa Sukarno tidak ditembak saja. Westerling menjawab, "Orang Belanda sangat perhitungan, satu peluru harganya 35 sen, Sukarno harganya tidak sampai 5 sen, berarti rugi 30 sen yang tak dapat dipertanggungjawabkan." Beberapa hari kemudian, Komisaris Tinggi Indonesia memprotes kepada kabinet Belanda atas penghinaan tersebut.

Pada 17 Desember 1954 Westerling dipanggil menghadap pejabat kehakiman di Amsterdam di mana disampaikan kepadanya, bahwa pemeriksaan telah berakhir dan tidak terdapat alasan untuk pengusutan lebih lanjut. Pada 4 Januari 1955 Westerling menerima pernyataan tersebut secara tertulis.

Westerling kemudian menulis dua buku, yaitu otobiografinya Memoires yang terbit tahun 1952, dan De Eenling yang terbit tahun 1982. Buku Memoires diterjemahkan ke bahasa Prancis, Jerman dan Inggris. Edisi bahasa Inggris berjudul Challenge to Terror sangat laku dijual dan menjadi panduan untuk counter insurgency dalam literatur strategi pertempuran bagi negara-negara Eropa untuk menindas pemberontakan di negara-negara jajahan mereka di Asia dan Afrika.

Westerling meninggal dengan tenang tahun 1987.

Bierkeller Putsch

Jumat, 04 September 2009

Bierkeller Putsch (atau juga dikenal sebagai Putsch München) merupakan suatu percobaan nekad partai Nazi untuk menjatuhkan pemerintahan demokrasi dan mengambil alih kekuasaan melalui cara pemberontakan. "Putsch" bermakna perebutan kekuasaan di dalambahasa Jerman, sedangkan Bierkeller ialah dewan pertemuan dimana minuman bir biasanya dihidangkan kepada orang banyak. Bermula pada8 November 1923 di Bürgerbräu Keller sebuah Bierkeller yang terbesar di München dan berakhir sehari kemudian di pusat kota München.


Latar belakang

Selepas Perang Dunia I, pemerintah Jerman telah dipaksa untuk membayar pemerintah Prancis sejumlah uang yang besar tetapi mereka enggan membayarnya. Akibatnya nilai mata uang Jerman telah jatuh dengan parah dan negara telah dilanda inflasi. Namun, rakyatnya tetap menyokong pemerintahannya dan memuji ketahanan Jerman menentang Perancis. Malangnya pada September 1923, pemerintah Jerman terpaksa akur dengan kehendak Perancis dan mulai membayar balik hutang mereka. Ini telah membangkitkan kemarahan orang banyak terutama kelompok pelampau di wilayah Bavaria.

Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei dan kelompok politik yang lain mengambil kesempatan dengan ketegangan yang sedang berlaku. Adolf Hitler yang semakin terdesak untuk memegang pucuk pimpinan partai sadar bahwa ia perlu mengambil tindakan segera. Semasa itu partai Nazi, yang mempunyai 55.000 anggota, merupakan partai politik yang terbesar di Jerman dan mempunyai sistem organisasi terbaik dibandingkan dengan partai-partai lain.

Perebutan kekuasaan yang gagal

Rencana awal Hitler ialah untuk menculik Perdana Menteri Bavaria dan anggota tertinggi kerajaan di sana dan memaksa mereka untuk menyertai pemberontakan terhadap pemerintahan demokrasi Jerman. Ia tau bahwa sebanyak 3.000 anggota pemerintah Bavaria akan mengadakan perjumpaan di beer hall. Oleh karena itu, ia mengarahkan Sturmabteilung (SA) untuk mengepung beer hall tersebut. SewaktuGustav von Kahr, perdana menteri Bavaria sedang berucap, Adolf Hitler dan pasukan badainya yang bersenjata menerobos ke dalam bangunan itu. Kemudian Hitler memaksa Gustav von Kahr, Otto von Lossow (panglima militer Bavaria), dan Hans von Lossow, ketua polisi BundeslandBayern ke bilik yang berlainan.

Setelah itu Hitler memberi tahu mereka bertiga bahwa ia akan menjadi pemimpin baru Jerman dan menawarkan mereka jabatan tertinggi dalam pemerintahannya. Pada mulanya mereka enggan bekerja sama karena tidak mau menjadi pengkhianat bangsa. Setelah itu Erich Ludendorff, seorang perwira Perang Dunia I mencoba membujuk mereka. Akhirnya mereka bersepakat dengan Hitler dan di hadapan para pegawai pemerintah yang lain mereka memberi sokongan yang penuh kepada kelompok pemberontak. Hitler amat gembira saat mendapat sokongan mereka dan mulai percaya rencananya untuk menjadi pemimpin Jerman akan menjadi kenyataan. Tetapi telah diberi tahu bahwa rencana mengepung barak tentara Jerman menemui kesulitan. Oleh karena itu ia pun bergegas ke sana.

Tindakannya itu ternyata merupakan satu kesalahan. Tanpa kehadirannya pemberontak di dewan itu telah menjadi kocar-kacir. Ketiga pegawai tertinggi itu berhasil melepaskan diri setelah berjanji untuk setia kepada pemerintah Hitler. Hitler pun gagal menawan barak militer Jerman dan pulang kembali kepada Beer Hall dan mendapati orang tebusannya telah berhasil melarikan diri. Ia mulai sadar rencananya telah gagal tetapiErich von Ludendorff meyakinkannya bahwa jika mereka bersama-sama berarak-arakan ke Munchen, mereka akan berhasil merampas kekuasaan pemerintah. Eric begitu yakin takkan ada yang akan menembaknya, malah pihak polisi atau tentara di sana mungkin juga turut serta dengan pihak Nazi.

Adolf Hitler yang hampir putus asa itu terpaksa setuju dengan rencana Eric. Lalu dengan bala tentaranya sebanyak 3.000 orang mereka berarak menuju ibukota Jerman iaitu Berlin untuk menumbangkan pemerintah nasional. Walaupun begitu, Perdana Menteri Bayern serta pegawai pemerintahan yang lain telah berpaling tadah dan berusaha untuk menumpaskan kudeta tersebut. Strategi Hitler salah karena tidak mengarahkan tentaranya untuk menawan pusat komunikasi utama seperti stasiun radio dan kantor telegraf. Keesokan harinya, Perdana Menteri Bavaria telah mengkritik kudeta tersebut dan melarang parti Nazi yang bermarkas disana. Selain itu, pemerintah Bavaria dengan pantasnya telah memberi peringatan kepada pemerintah pusat mengenai rencana Hitler. Oleh itu, penguasa Munich telah bersedia untuk menumpas kudeta itu.

Saat pendukung Hitler tiba di Munich mereka telah bertembung dengan angkatan polisi di sana. Pertempuran sengit kemudian terjadi antara pihak Nazi dengan pihak berkuasa Muenchen. Dalam beberapa menit saja, 21 orang (termasuk 16 anggota Nazi) terbunuh dan beberapa ratus orang cedera. Hitler berhasil melarikan diri tetapi akhirnya ia bersama pegawai teringginya telah ditangkap.

Nazi setelah peristiwa Bierkeller Putsch

Banyak yang menyangka perebutan kekuasaan yang gagal itu telah menamatkan riwayat partai Nazi. Tetapi Hitler telah menggunakan kesempatan tersebut untuk menyebarkan ideologinya kepada rakyat jelata.

Dalam masa yang singkat, Hitler telah menjadi seorang terkenal disebabkan liputan media yang meluas. Para hakim dalam pembicaraannya telah dipilih oleh seorang yang pro-Nazi dalam pemerintah Bayern. Mereka membenarkannya menggunakan mahkamah sebagai pentas untuk menyebarkan propagandanya kepada rakyat.

Sewaktu pembicaraan dijalankan, ia yang bijak berpidato telah menjelaskan dengan panjang lebar mengenai aspirasi partai Nazi. Rakyat yang pada waktu itu tidak mengenali Hitler, mulai sadar tentang dia dan partainya. Malah mereka suka dengan kepribadiannya yang hebat serta argumennya yang berisi. Antara lain mereka setuju dengannya bahwa pemerintah yang "menikam mereka dari belakang" harus dijatuhkan. Mereka juga terpengaruh dengah kata-katanya yang penuh semangat.

Ahkirnya, Hitler dijatuhi hukuman lima tahun dengan 6 bulan parol. Sementara pegawai-pegawai lain telah mendapat hukuman yang ringan. Namun demikian, ia dilepaskan dari penjara setelah 8 bulan. Sewaktu dipenjara ia telah mengarang bukunya yang popular Mein Kampf. Selepas peristiwa yang memalukan tersebut, ia berikrar untuk mendapat kekuasaan dengan cara yang lebih demokratis.

Malam Pisau Panjang

Kamis, 03 September 2009

Malam Pisau Panjang atau "Operasi Kolibri" (bahasa Jerman: Kolibri) adalah pembersihan besar-besaran yang terjadi di Jerman Nazi antara tanggal 30 Juni sampai 2 Juli 1934, ketika rezim NSDAP menghukum mati sekitar 90 orang untuk alasan politik. Kebanyakan yang dibunuh adalah anggota "Pasukan Badai" (SA).

Adolf Hitler bermusuhan terhadap SA dan pimpinannya Ernst Julius Rohm, karena Hitler melihat kebebasan SA dan kesukaan anggotanya akan kekerasan jalanan merupakan ancaman langsung bagi kekuasaannya. Hitler juga menginginkan pencegahan gerakan apapun oleh para petinggi Reichswehr, militer Jerman, yang takut dan benci akan SA, membatasi kekuasaannya, khususnya sejak Ernst Rohm menunjukkan gelagat ambisinya untuk menggabungkan Reichswehr ke dalam SA dengan dirinya sebagai kepala. Akhirnya, Hitler menggunakan pembersihan itu untuk melawan kritik konservatif dalam rezimnya, khususnya yang setia pada Wakil Kanselir Franz von Papen, dan membereskan urusan dengan musuh-musuh lama.

Holocaust

Jumat, 31 Juli 2009

Holocaust

Holocaust (dari bahasa Yunani: holokauston yang berarti "persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya") adalah genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis, keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II.

Bangsa Yahudi di Eropa merupakan korban-korban utama dalam Holocaust, yang disebut kaum Nazi sebagai "Penyelesaian Terakhir Terhadap Masalah Yahudi". Jumlah korban Yahudi umumnya dikatakan mencapai enam juta jiwa. Genosida ini yang diciptakan Adolf Hitler dilaksanakan, antara lain, dengan tembakan-tembakan, penyiksaan, dan gas racun, di kampung Yahudi dan Kamp konsentrasi. Selain kaum Yahudi, kelompok-kelompok lainnya yang dianggap kaum Nazi "tidak disukai" antara lain adalah bangsa Polandia, Rusia, suku Slavia lainnya, penganut agama Katolik Roma, orang-orang cacat, orang cacat mental, homoseksual, Saksi-Saksi Yehuwa (Jehovah's Witnesses), orang komunis, suku Gipsi (Orang Rom dan Sinti) dan lawan-lawan politik. Mereka juga ditangkap dan dibunuh. Jika turut menghitung kelompok-kelompok ini dan kaum Yahudi juga, maka jumlah korban Holocaust bisa mencapai 9-11 juta jiwa.
Arti Holocaust
Nama Holocaust berasal dari kata Yunani yang digunakan dalam Alkitab, yang berarti persembahan bakaran yang utuh. (Ibrani 10:6) Namun sehubungan dengan artikel ini, “Holocaust adalah penganiayaan dan pemusnahan orang Eropa keturunan Yahudi secara sistematis dan yang disponsori negara Jerman Nazi dan sekutu-sekutunya antara tahun 1933-1945.
Pengingkaran Holocaust
Pengingkaran holocaust atau holocaust denial adalah kepercayaan bahwa Holocaust tidak pernah terjadi, atau jauh lebih sedikit dari 6 juta orang Yahudi yang dibunuh oleh Nazi; bahwa tidak pernah ada rencana terpusat untuk memusnahkan bangsa Yahudi; atau bahwa tidak ada pembunuhan masal di kamp-kamp konsentrasi. Mereka yang percaya akan hal ini biasanya menuduh bangsa Yahudi atau kaum Zionis mengetahui hal ini dan mengadakan konspirasi untuk mendukung agenda politik mereka. Karena Holocaust dianggap ahli-ahli sejarah sebagai salah satu kejadian paling banyak didokumentasikan dalam sejarah, pandangan-pandangan ini tidak dianggap kredibel, dengan organisasi-organisasi seperti American Historical Association mengatakan bahwa Holocaust denial sebagai "at best, a form of academic fraud. Pernyataan holocaust denial di muka umum adalah pelanggaran hukum di sepuluh negara Eropa, termasuk Perancis, Polandia, Austria, Swiss, Belgia, Romania, dan Jerman.

Holocaust deniers lebih suka disebut Holocaust "revisionists". Kebanyakan ahli sejarah mengatakan bahwa istilah ini menyesatkan. Historical revisionism adalah bagian dari ilmu sejarah; yaitu penyelidikan ulang dari accepted history (sejarah yang sudah diterima secara umum) dengan tujuan untuk lebih memperjelas peristiwa tersebut. Sebaliknya, negationist dapat secara sengaja menggunakan catatan sejarah yang salah; seperti ditulis Gordon McFee: "Revisionists depart from the conclusion that the Holocaust did not occur and work backwards through the facts to adapt them to that preordained conclusion. Put another way, they reverse the proper methodology ... thus turning the proper historical method of investigation and analysis on its head."

Public Opinion Quarterly juga menyimpulkan: "Tidak ada ahli sejarah terkemuka yang mempertanyakan kenyataan Holocaust, dan mereka yang mendukung Holocaust denial kebanyakan adalah anti-Semit dan/atau neo-Nazi."

Holocaust denial sangat populer dalam penentang-penentang Israel dari kaum Muslim karena memang banyak bukti yang dikeluarkan oleh ilmuwan barat sendiri yang menjelaskan kebohongan holocaust ini. Disertasi doktor Mahmoud Abbas, Presiden Palestina, meragukan bahwa kamar gas digunakan untuk membunuh orang-orang Yahudi dan mengatakan bahwa jumlah orang Yahudi yang dibunuh dalam Holocaust kurang dari 1 juta jiwa. Abbas belum pernah menyatakan pandangan ini sejak ditunjuk menjadi Perdana Menteri Palestina pada tahun 2003, dan telah membantah bahwa ia adalah seorang Holocaust denier. Pada akhir 2005, presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menggambarkan Holocaust sebagai "mitos pembantaian orang Yahudi.
Sebenarnya dari kalangan ilmuwan barat sendiri ada beberapa yang menyangkal adanya Holocaust, di antaranya: Pengarang Perancis Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, dll. tetapi hampir semuanya dinyatakan bersalah dan dijebloskan kedalam penjara termasuk Pada 15 Feb 2007, Ernst Zundel seorang Holocaust denier dihukum 5 tahun penjara. Seorang pengacaranya, Herbert Schaller, menghujah bahwa semua bukti tentang adanya Holocaust hanya berdasarkan pengakuan korban-korbannya saja, bukan berdasarkan fakta-fakta yang jelas. Ernst Zundel ini juga pernah ditahan pada tahun 1985, dan 1988 dalam kasus yang sama.

Semua hal di atas sangat kontras dengan slogan negara-negara barat sendiri yang menyatakan kebebasan berpendapat apalagi disertai bukti-bukti ilmiah tentang kebohongan Holocaust terutama digunakannya kamar gas oleh Nazi di Polandia, tetapi begitu menyinggung masalah yang menggugat hal ini mereka langsung memberangus habis penentang-penentangnya sehingga banyak kalangan menilai adanya lobby Yahudi yang berdiri dibelakangnya dalam mempengaruhi putusan pengadilan
Hari peringatan Holocaust
Dengan suara bulat, didalam sidang Majelis Umum PBB pada 1 November 2005, ditetapkan bahwa tanggal 27 Januari sebagai "Hari Peringatan Korban Holocaust". 27 Januari 1945 adalah hari dimana tahanan kamp konsentrasi NAZI di Auschwitz-Birkenau dibebaskan. Bahkan sebelum PBB menetapkannya, tanggal 27 Januari telah di tetapkan sebagai Hari Peringatan Korban Holocaust oleh Kerajaan Inggris sejak tahun 2001, sebagaimana halnya di negara-negara lain, mencakup Swedia, Italia, Jerman, Finlandia, Denmark dan Estonia. Israel memperingati Yom HaShoah vea Hagvora, "Hari Hari Peringatan Holocaust dan Keberanian Bangsa Yahudi" pada pada hari ke 27 bulan Nisan, bulan Ibrani, yang biasanya jatuh pada bulan April. Hari peringatan ini biasanya juga di peringati oleh Yahudi di luar Israel.

Pulau Um, Pantai Perawan di Distrik Makbon

Rabu, 24 Juni 2009


Para pencinta pantai sering kali berkhayal bisa singgah di sebuah pulau di tengah laut dengan suguhan pemandangan yang 'menjanjikan surga dunia'. Bukan hanya bebas berenang, tapi juga leluasa berjemur, bermain kayak, bahkan menikmati bola raksasa hangat yang tenggelam di balik punggung bumi. Kecipak senja dengan buaian angin pantai selalu menyergap, membius untuk tinggal lebih lama di bibir pantai.

Kemewahan pantai dan langit dengan semburat keunguan itu bisa Anda jumput di Pulau Um. Pulau di Distrik Makbon, Sorong, Papua Barat, ini menjadi salah satu tujuan yang wajib Anda sambangi jika berada di wilayah paling timur Indonesia. Eits. Jangan bergidik mendengar kata 'pulau'. Pulau Um terbilang kecil, bahkan Anda hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mengelilingi pulau ini dengan bertelanjang kaki.

Hanya satu yang bisa dijanjikan dari kunjungan ke Pulau Um ini, yaitu ketenangan ala pantai perawan yang natural dan kekayaan alam yang sesungguhnya tak ingin bersembunyi dari sentuhan para pendatang.

Jika Anda suka menyelam, jangan lupa untuk membawa perlengkapan selam Anda. Pasalnya, Pulau Um akan memanjakan indera Anda dengan suguhan beragam ikan karag, penyu, lola, teripang, lobster, dan indahnya karang yang terpahat alami.

Nikmati indahnya panorama bawah laut Pulau Um yang sangat menarik lantaran sistem sasi laut yang diterapkan warga Kampung Malaumkarta. Sasi laut adalah larangan untuk menangkap jenis fauna laut tertentu di sebuah kawasan dalam jangka waktu tertentu yang disepakati oleh masyarakatnya.

Asal tahu saja, Kampung Malaumkarta yang berada berhadapan dengan Pulau Um ini berperan besar menyumbang keindahan alam bawah laut Pulau Um. Masyarakat yang hidup di sekitar Pulau Um dan Kampung Malaumkarta hidup sebagai nelayan dan memiliki kesadaran untuk menjaga hasil laut. Dengan adanya larangan untuk menangkap ikan dengan jala dan bom, nelayan hanya mendapatkan ikan dengan cara memancing.


Pulau ini sering digunakan oleh nelayan sebagai tempat singgah saat mereka mencari ikan. Jika sedang beruntung bertemu nelayan yang singgah, Anda bisa mencicipi kenikmatan ikan segar bakar yang fresh from the ocean. Biasanya nelayan di sini bersedia menjual sebagian hasil tangkapan mereka. Seekor ikan tengiri atau bubara cukup untuk porsi empat orang bisa anda tebus dengan lembaran Rp 20.000.

Di Pulau Um ini, Anda juga akan mendapati ribuan kelelawar yang menjadikan pulau ini sebagai habitatnya. Kawanan kelelawar ini hidup bergantungan di atas pohon. Tangkap kesempatan selagi bisa menikmati kelelawar yang terbang berkelompok dan hinggap dari satu pohon ke pohon lain.

Rasanya terlalu sayang untuk melewatkan Pulau Um yang berkolaborasi kompak pasir putih dengan airnya yang teduh berwarna kehijauan, kicauan burung yang bersahutan, tebaran kelelawar terbang mencari makan, dan torehan semburat jingga di barat yang menuai pendar keemasan di hati. Benar, Pulau Um adalah jawaban dari kemewahan yang ingin dicecap oleh para pecinta pantai.


Bisa jadi, Anda akan merasa menjadi penemu Pulau Um. Pasalnya, pantai ini tak riuh seperti pantai-pantai lain yang sarat dengan gelak tawa para penikmatnya. Sebaliknya, pantai ini sangat tenang; lagi pula belum banyak yang mengetahui harta karun keindahan di pulau ini.

Lantas, bagaimana untuk mendapatkan kemewahan di surga Papua Barat ini?

Nah, begini caranya. Untuk mencapai Pulau Um, Anda harus menuju Makbon melalui jalur darat. Dari Kota Sorong, tersedia angkutan umum menuju Makbon dengan tarif Rp 15.000 one way. Perjalanan sejauh 40 kilometer tersebut akan ditempuh dalam waktu sekitar 2 hingga 3 jam.

Tiba di Makbon, Anda masih harus melanjutkan perjalanan menuju Pulau Um dengan menggunakan longboat sewaan; maklum, belum tersedia transportasi umum menuju ke sana. Untuk menyewa longboat ini, Anda harus merogoh kocek sebesar Rp 300.000 untuk berkendara selama 30 menit hingga tiba di Pulau Um

Sejarah Jakarta: Periode Fatahillah Hilang


SEBELUM Batavia berdiri, di bawah tanahnya pernah ada sebuah kota bernama Jayakarta. Lokasinya sekarang kira-kira di daerah The Batavia Hotel hingga ke Jalan Kopi. Karena Sunda Kalapa dulu itu lokasinya kini ada di sekitaran Kalibesar Barat. Kisah tentang Jakarta tak akan bisa lepas dari keberadaan Fatahillah yang pada tahun 1527 berhasil mengenyahkan Pajajaran dan Portugis. Pada tahun itu pula, ia merebut Sunda Kalapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta.

Di tahun 1619 VOC yang dipimpin oleh JP Coen menaklukkan Jayakarta dan membakar kota itu untuk kemudian mendirikan Batavia.

Nugroho Notosusanto dalam sebuah tulisan yang terbit dalam Ketoprak Betawi menulis, tanggal 21 Agustus 1522 Pajajaran dan Portugis membuat perjanjian, di mana Portugis, melalui Fransisco de Sa, diizinkan membangun sebuah benteng di Sunda Kalapa. Pada 1526 de Sa mendapat tugas menggempur Bintan dan dari sana ia mengarah ke selatan hingga bertemu Fatahillah dan kalah.

Lantas siapa itu Fatahillah? Ia berasal dari Pasai dan melarikan diri saat kota itu direbut Portugis. Fatahillah pun mengembara ke Demak. Dari Demak ia tiba di Jawa Barat dan bertemu de Sa di Sunda Kalapa. Bertempur, menang, dan tinggal sebentar di Jayakarta untuk kemudian pergi ke Cirebon dan menetap di sana. Kekuasaan diserahkan kepada Tubagus Angke. Siapa dia, sejarah tak terlalu banyak menyebut siapa Tubagus Angke ini. Dalam penelitian Dinas Museum dan Sejarah tahun 1994 disebutkan, Tubagus Angke masih kemenakan Maulana Bagdad atau Maulana Abdurahman (dalam Babad Banten).

Tubagus Angke dikatakan memiliki putra yang kemudian melanjutkan kekuasaan di Jayakarta. Nama sang putra adalah Pangeran Jakarta Wijayakrama. Pangeran Wijayakrama inilah yang kemudian takluk pada pasukan VOC di bawah JP Coen. Coen kemudian membakar kota Jayakarta dan membangun Batavia di atas reruntuhannya.

Pangeran Jakarta Wijayakrama diperkirakan mulai memerintah pada 1596 karena dalam salah satu sumber Belanda disebutkan, raja Jayakarta di kala itu sudah tua – maksudnya Tubagus Angke. Di seputaran waktu itu diperkirakan kekuasaan sudah diserahkan kepada Pangeran Jakarta.

Pada 1610 Wijayakrama membuat perjanjian dengan Pieter Both, gubernur jenderal, yang isinya antara lain, orang Belanda yang datang ke Jayakarta boleh berdagang; orang Belanda boleh membangun loji untuk tempat dagangan mereka; orang Belanda boleh mengambil kayu dari pulau-pulau untuk membuat kapal; cukai barang diserahkan ke Raja Jakarta.

Namun lama kelamaan hubungan itu makin tak harmonis hingga tiba JP Coen di Jayakarta. Perselisihan itu berbuntut perang pada 1618 dan akhirnya pada 1619 Jayakarta berhasil direbut Coen.

Kisah tersebut di atas agak sulit didapat, kalaupun ada, informasinya berbeda dengan bahasa yang tak teratur, pula. Demikian pula informasi tentang bagaimana wajah Fatahillah, misalnya.

Terlebih lagi di Museum Sejarah Jakarta (MSJ), yang memamerkan sejarah Jakarta sejak masa pra sejarah hingga masa kolonial, ternyata tak ditemukan periode Jayakarta semasa Fatahillah. Periode itu sepertinya hilang sehingga cerita melompat dari zaman pra sejarah, Hindu, langsung Batavia di bawah JP Coen (kolonial). Tak lengkap bicara sejarah Jakarta tanpa menyebut Fatahillah. Periode sekitar satu abad hilang. Padahal inti sejarah Jakarta adalah dimulainya Jayakarta sebagai embrio Jakarta.

Tugas melengkapi periode Fatahillah itu tak sebatas tugas MSJ tapi juga dinas, dalam hal ini dinas kebudayaan yang kini berbagi peran dengan dinas pariwisata. Keberadaan bidang pengkajian dan pengembangan sejak masa Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI sejatinya antara lain bertugas menutupi bolongnya periode sejarah itu.

Barangkali di HUT ke-482 Jakarta ini lantas ada greget dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI, khususnya bidang kebudayaan, untuk segera merapatkan diri, merancang program, membenahi apa yang dirasa kurang dan melenceng, termasuk menggali potensi budaya asli Jakarta. Pasalnya, sejak penggabungan dua dinas, pariwisata dan kebudayaan, rasanya bidang kebudayaan berjalan bagai tanpa pegangan, tanpa induk. Kalau boleh lebih gamblang, seperti tak punya arah yang jelas, yaitu sebuah program besar yang disinerjikan dengan seluruh bidang termasuk pariwisata.

Misteri Kuburan Cleopatra dan Mark Anthony

Kamis, 16 April 2009


Meski cerita cintanya sangat kondang, kuburan Cleopatra dan Mark Anthony sampai kini belum diketahui. Masih misterius di mana kedua insan dimakamkan. Para arkeolog di Mesir akan memulai penggalian untuk mencari makam pasangan kekasih yang sama-sama mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.


Dewan Purbakala Mesir menyatakan, pencarian akan dipusatkan di tiga lokasi yang diduga paling kuat. Ketiga lokasi berada di satu kawasan Kuil Taposiris Magna, yang berada dekat dengan Kota Alexandria di bibir pantai Laut Mediterania.


Tahun lalu, di kuil yang dibangun pada masa kekuasaan Raja Ptolemy II (282-246 SM) itu ditemukan kepala patung Cleopatra, 22 koin bergambar Cleopatra, dan sebuah topeng yang diduga milik Anthony. Di dalam kuil tersebut terdapat sejumlah ruangan. Tiga di antaranya yang berada di bawah tanah diperkirakan sebagai makam Cleopatra dan Anthony.


"Pasangan kekasih itu mungkin disemayamkan di ruangan yang sama," demikian pernyataan yang dilansir Dewan Purbakala. Penggalian akan dilakukan tim arkeolog dari Mesir dan Republik Dominika yang telah melakukan penelitian di kawasan tersebut dalam tiga tahun terakhir.


Cleopatra dan Mark Anthony dikenal dengan kisah asmaranya yang tragis. Keduanya sama-sama memutuskan bunuh diri pada 30 SM setelah kalah perang. Mark Anthony diceritakan tewas dengan pedangnya sendiri, sedangkan Cleopatra mati karena gigitan ular berbisa yang diambilnya sendiri.

Schutsel VOC Milik MSJ "Mejeng" di London

Minggu, 12 April 2009

Sejarah koleksi Museum Sejarah Jakarta dimulai ketika pada tahun 1788, Konselor Hindia Belanda JCM Radermacher, bersama para ilmuwan, mendirikan Perkumpulan Seni dan Ilmiah Batavia (Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Tujuannya untuk melakukan penelitian di bidang seni dan ilmu pengetahuan yang di dalamnya ada sejarah ilmu alam, arkeologi, dan etnografi dari seluruh nusantara.

Sejak abad ke-19, perkumpulan ini sudah memperoleh koleksi peninggalan arkeologi khususnya dari periode pra-Islam, seperti potongan uang dan naskah. Hasil temuan itu bahkan sudah dipamerkan di Museum of Bataviaasch Genootschap van Kusnten en Wetenschappen (Museum Nasional) tahun 1868. Di abad ke-20, museum ini sudah mengumpulkan berbagai ukiran kayu dan obyek seni lainnya berhubungan dengan sejarah Batavia.

Dalam buku Dari Stadhuis Sampai Museum yang ditulis Hans Bonke dan Anne Handojo, di tahun 1937, perkumpulan lain pun terbentuk, yaitu Yayasan Batavia Lama (Stichting Oud Batavia). Yayasan ini berencana membangun museum khusus sejarah Batavia, Museum Sejarah Batavia. Maka, koleksi berbau Batavia dari Museum of Bataviaasch Genootschap pun diboyong ke museum baru ini.

Pada dua tahun berikutnya, publik sudah bisa menikmati koleksi yang terdiri dari berbagai peralatan perak, lukisan, furnitur masa kolonial, buku, dan lainnya sebagai adopsi dari ruang pamer bertema "Compagniekamers (Kamar-kamar Company)". Masa jaya museum ini terganggu pada periode 1942-1945 saat Jepang masuk. Pada periode ini, banyak hal terjadi pada koleksi.


Yayasan Batavia Lama mengubah nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada 1950. Lembaga ini menjadi semacam pengatur dua museum, Museum Pusat yang semula bernama Museum of Bataviaasch Genootschap dan Museum Jakarta Lama yang semula bernama Museum Sejarah Batavia. Koleksi dari dua museum tadi kemudian diserahkan kepada Pemerintah Indonesia pada 1958. Pada sepuluh tahun kemudian, pemerintah memindahkan kembali sebagian koleksi ke Museum Jakarta Lama (kini Museum Sejarah Jakarta).

Salah satu koleksi museum ini adalah schutsel atau pemisah ruang dari abad 18. Koleksi ini berasal dari ruang sidang Dewan Hindia Belanda di Kastil Batavia. Adolf Heuken menyebutkan, dewi kebijaksanaan—Dewi Pallas Athena—menjadi bagian sentral pemisah ruang itu. Di bawah mahkota terdapat lambang enam kota yang membentuk VOC, sedangkan di tengahnya ada lambang kota Batavia.

Pemisah ruang ini kini sedang berada di London, tepatnya di Victoria and Albert Museum dalam sebuah pameran bertema Baroque: Stye in The Age of Magnificence (1620-1800). Pameran ini dibuka pada 4 April-19 Juli 2009.

Daendels, Sultan Agung dan Jalan Pos

Herman Willem Daendels yang berkuasa di abad 19 dan Sultan Agung pendiri wangsa Mataram yang berkuasa di abad 17 ternyata memiliki kaitan erat lewat keberadaan Jalan Raya Pos. Sebagian jalur Jalan Raya Pos (Gr ote Post Weg-Red) yang dibangun oleh Daendels merupakan bagian dari jalan desa yang dirintis dan ditempuh pasukan Sultan Agung saat menyerang Batavia tahun 1628 dan 1630.

Sejarawan menjelaskan, beberapa ruas Jalan Raya Pos merupakan perluasan dari jalan yang pernah dirintis atau digunakan pasukan Sultan Agung dari Mataram. "Sultan Agung bermaksud mengukuhkan kekuasaan di tanah Jawa dengan menyerang Batavia lalu menguasai Banten. Itu sebabnya Kesultanan Banten tidak membantu pengepungan yang dilakukan Sultan Agung terhadap Batavia," ujar Mona yang menerjemahkan arsip VOC sejak tahun 1600-an hingga era Hindia Belanda tahun 1942.

Penulis Belanda Pierre Heiboer dalam Klamboes, Klewang, Klapperbomen Indie Gewonnen en Verloren menulis, semula Sultan Agung tidak memandang Belanda di Batavia sebagai musuh. Namun, sikap Sultan Agung berubah saat dia berusaha mengalahkan Banten.

Heijboer menulis ...Vijanden van Mataram werden ze pas toen ze weigerden de sultan sch epen te lenen voor de verovering van Bantam. Het brach Agoeng tot het besluit ... eerst Batavia veroveren en daarna Bantam yang kurang lebih berarti permusuhan berawal ketika Belanda menolak meminjamkan kapal kepada Sultan Agung untuk menyerang Banten, Sultan Agung pun memutuskan untuk mengalahkan Batavia terlebih dahulu, selanjutnya Banten ditaklukkan.

Sebelumnya, seperti dalam tulisan Pramoedya Ananta Toer, Jalan Pos Jalan Daendels, disebutkan Sultan Agung telah melebarkan kekuasaan dengan menguasai dataran tinggi Priangan. Setiap tahun, para bangsawan Pasundan pun diwajibkan datang ke Mataram sebagai wujud kesetiaan pada Sultan Agung.

Semasa menyerang Batavia, Sultan Agung memiliki dua panglima yakni Bahureksa yang berasal dari suku Jawa dan Dipati Ukur yang merupakan bangsawan Sunda. Pasukan bergerak dari wilayah Jawa Tengah dan dataran tinggi Priangan di Jawa Barat. Salah satu gudang beras pasukan Sultan Agung terdapat di sekitar Cirebon, Jawa Barat dan Tegal, Jawa Tengah. Ribuan rakyat desa dikerahkan menjadi tenaga bantuan untuk mendukung pasukan Sultan Agung.

Kalender Kuno Maya Ramalkan Kejadian Besar 2012

Senin, 02 Maret 2009


Kalender suci bangsa Maya atau Tzolkin adalah pintu memasuki pemikiran suatu peradaban sangat maju di dunia Barat sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Para ahli meyakini, astronomi Maya Kuno adalah pencapaian intelektual yang menakjubkan, setara dengan geometri Mesir Kuno dan filosofi Yunani.

Banyak orang percaya, kalender berusia 2.000 tahun itu lebih akurat dibandingkan kalender Gregorian yang digunakan sejak tahun 1582.

Bangsa Maya Kuno hidup pada awal milenium pertama sesudah Masehi di wilayah Mesoamerika, yang membentang dari Meksiko Utara ke Honduras, di utara Semenanjung Yucatan. Penduduknya berjumlah 5 juta sampai 14 juta orang, bermukim di kota-kota yang kini dikenal sebagai Meksiko Selatan, Guatemala, dan Belize.

Dalam The Mayan Calendar and the Transformation of Consciousness (2004), Carl Johan Calleman PhD menulis, selain kebudayaan yang tinggi di bidang seni dan arsitektur yang ditemukan di kawasan-kawasan piramida, seperti Palenque, Tikal, Copán, dan Chitchén Itzá, bangsa Maya Kuno sangat dikenal kemampuannya dalam ilmu astronomi dan matematika. Bangsa inilah yang pertama menggunakan angka nol (0).

Bangsa Maya Kuno terobsesi pada waktu. Menurut Lawrence E Joseph dalam Apocalypse 2012 (2007), mereka menciptakan sedikitnya 20 kalender, disesuaikan dengan berbagai siklus, mulai dari kehamilan hingga panen, bulan hingga Venus. Penghitungan orbitnya sangat akurat dengan selisih hanya satu hari setiap 1.000 tahun.

Reruntuhan kota-kota mereka, menurut Jared Diamond dalam Collapse: How Societies Choose to Fail or Survive (2005), baru ditemukan tahun 1839 oleh ahli hukum dari Amerika Serikat, John Stephens, bersama juru gambar asal Inggris, Frederick Catherwood. Eksplorasi itu menemukan 44 kota dan tempat.

Terobsesi siklus

Yang terpenting bagi masyarakat Maya Kuno adalah etos kosmis. Kedamaian berarti sikap harmoni dengan gerakan abadi alam semesta. Akibat terpaku pada siklus, mereka tidak menyadari perubahan di sekitar mereka.

Hal ini mungkin menjelaskan keambrukan bangsa itu. Meski ada yang meyakini mereka moksa, Jared Diamond secara metodologis menjelaskan, penyebabnya adalah hancurnya daya dukung lingkungan karena bertani dan membabat hutan secara berlebihan, serta pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi.

Pandangan itu dikonfirmasi penelitian Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang menemukan serbuk sari terperangkap dalam sedimen berusia 1.200 tahun—menjelang keruntuhan peradaban Maya—di sekitar wilayah Tikal. Itu pertanda deforestasi masif; pepohonan lenyap, tinggal rumput.

Penyebab lain adalah perang terus-menerus memperebutkan kekuasaan dan sumber daya alam. Kurang dari satu abad, jumlah penduduk berkurang 80-90 persen. Menurut Diamond, perhatian para pemimpin saat itu tampaknya berpusat pada masalah jangka pendek. Mereka serakah, gila kuasa, dan menindas.

Namun, keruntuhan dramatis itu tidak menihilkan kearifan bangsa Maya Kuno, khususnya tentang ramalan bencana yang belum tertandingi. Penyerbuan Spanyol atas perintah Roma tahun 1519 sudah diramalkan dengan bantuan bintang-bintang di angkasa.

Ramalan itu menyelamatkan teks-teks kuno—yang masih disimpan para tetua di pedalaman—di antara ribuan teks yang dibakar penjajah dan empat buku tentang Kalender Maya yang kemudian ditemukan di Eropa.

Sekarang Kalender Maya meramalkan kejadian di dunia pada 21/12/2012!